Ragu

Ketika menyelami hatimu lebih dalam
Aku bimbang akankah kau dengan ku
Ketika api kemarahanku datang
Aku bimbang kalau kau akan bertahan
Ketika menempuh lembah kekelaman jiwaku
Aku takut kau akan menyerah

Ada sedih yang membisikkan lagu kepergianmu
Janji tentang kau yang tak akan pernah meninggalkanku
Bagiku hanya kesenangan sementara
Dan menimbulkan jutaan tanya

Maafkan aku, cerita kecewa yang dulu
Masih mengikat di dalam relung jiwa
Maafkan aku yang tak dapat melihat cahayamu
Yang menerobos ke hatiku

Setiap pertempuran malam mu
Adalah pergumulan bagiku
Dan perjuangan yang sia-sia bagimu
Karena masih ada kecewa yang melekat di dadaku

Usahamu belum mampu membuatku takjub
Semakin berupaya semakin mendendang lagu untuk sendiri

Melalui rantai tali kasih
Aku menilik kesetiaan mu
Kau membawa jutaan ragu

[Piana]

Sudahi

Sudahi

Lidahku tersekat di langi-langit mulutku
Tiada sepatah kata dapat terucap
Padahal ada seribu tanya yang tersimpan

 

Sekian lama sudah kumenahan kelu
Tiada terbilang lagi sesak didada ini
Aku tak kuasa mengungkapkan kecewa
Aku tak pandai menyudahi rantai cinta yang mendua

 

Jangan kira aku lompong karena bisu
Aku hanya ingin kejujuranmu
Hentikan pelarian mu di hatiku
Karena itu menyiksa jiwaku

 

Jangan katakan sayang
Kalau tidak tersedia ruang bagiku dihatimu
Jangan katakan maaf
Hanya untuk menghindari perdebatan
Jangan katakan rindu
Hanya karena ingin mengusir sepimu

 

Katakan saja
Jangan diam seribu bahasa
Ungkapkan saja
Karena aku terperangkap dalam tanya

Sudahi saja
Karena tak ada alasan untuk bertahan

 

Hilangkan rasa bersalah dihatimu
Karena aku telah berkenan melepasmu
Aku paham harus mengikismu dihatiku
Karena kau adalah ketidak mungkinan
Yang tak seharusnya kugenggam
Jadi akhiri saja…ini pintaku

[Piana]

 

 

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Benakku bergolak kalau mengingat pandangan seseorang tentang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang dangkal. Ratusan gagasan terus membanjiri pikiranku kala kita bercerita tentang berbagai macam hal, khususnya menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Menjadi ibu rumah tangga seringkali dianggap tidak memiliki jiwa yang terhubung dengan pasangannya atau istilahnya tidak matching karena tidak memiliki minat dan antusias yang sama dalam memandang sesuatu.

Saya pikir pernikahan dirancang untuk memanggil kita keluar dari fokus terhadap diri sendiri dan belajar mencintai seseorang yang berbeda. Di dalam pernikahan butuh rasa cinta, pengorbanan dan rasa hormat kepada pasangan kita. Hal yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah mengenai rasa hormat. Terkadang, ada beberapa pandangan yang menganggap bahwa ibu rumah tangga hanya berperan sebagai pelayan dan tidak bisa dijadikan sahabat. Mereka dianggap dangkal dan tidak punya pemikiran yang brilliant sehingga kurangnya rasa hormat terhadap wanita yang memiliki impian untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal, menjadi ibu rumah tangga itu juga sama mulianya dengan menjadi wanita karir. Jadi jangan memandang rendah orang lain jika semisal dia memiliki impian dan jalan pikiran yang berbeda dengan Anda.

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah film yang berjudul Little Woman yang bercerita tentang bagaimana setiap wanita memiliki warnanya masing-masing. Mereka memiliki cara pandang tersendiri dalam menjalani hidup. Salah satu favourite line saya dalam film ini adalah perkataan Meg yaitu “Just because my dreams are different from yours doesn’t mean they’re unimportant.” Perkataan ini dilontarkan oleh Meg ketika Jo menganggap bahwa menikah dengan nasib hanya sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang menyedihkan. Jo menganggap ada banyak hal yang harus Meg jalani, misalnya menjadi aktris terkenal seperti impiannya selama ini. Dari film ini, saya belajar melihat bagaimana perubahan sikap Jo yang menghormati keputusan Meg tanpa menganggap rendah keputusan saudarinya itu.

Film tersebut mengingatkan saya akan seseorang yang menuntut saya menjadi seperti yang dia mau. Sejujurnya saya tidak pernah menginginkan hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga. Tetapi karena ada beberapa pandangan bahwa ibu rumah tangga hanya berperan sebagai pelayan dan tidak bisa sekaligus menjadi sahabat untuk pasangannya membuat saya sangat marah dan kecewa. Menikmati menjadi wanita karir sangatlah indah, namun ada sisi-sisi lain yang tidak bisa terisi hanya karena bekerja atau memiliki jabatan selangit. Sisi lainnya adalah menikmati waktu penuh dengan anak-anak, suami dan keluarga. Bagi sebagian wanita, menjadi ibu rumah tangga akan membuat dia lebih bahagia dibanding menjadi wanita karir. Oleh sebab itu, pandangan tentang impian menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang konyol, bagi saya itu adalah konsep yang tidak masuk akal karena kenyataannya mengurus rumah tangga itu tidaklah mudah. Sebagai tambahan, dalam berumah tangga setiap keputusan yang diambil sebaiknya dilakukan bersama-sama, terlepas pasangan Anda itu adalah wanita karir atau bukan.

Saya tidak bisa membayangkan jika ada pandangan bahwa wanita yang tidak berkarir tidak bisa memimpin jalannya rumah tangga karena dianggap hanya cocok sebagai pelayan sehingga tidak mampu mengimbangi pemikiran pasangannya. Ibu rumah tangga dianggap tidak mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada, seperti bagaimana menyelesaikan konflik, memberi pendapat atau pandangan yang dapat mengakomodasi atau menampung maksud suami serta saling mengoreksi dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Hei, peran seorang ibu rumah tangga juga tidak hanya mengurus rumah dan seisinya. Berada di rumah bukan berarti hanya mengurusi seisi rumah saja tanpa terlibat dalam memimpin jalannya rumah tangga. Dia juga punya pemikiran yang cakap dan baik dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Dia juga bisa mengembangkan potensi dirinya. Sekalipun hanya di rumah saja, bukan berarti dia tidak bisa bisa berkembang dan menjalani apa yang disukainya. Ibu rumah tangga juga bisa kreatif dan produktif. Bisa jadi hobi yang ada akan meningkatkan skill-nya dan menciptakan suatu karya hanya dengan di rumah saja. So, jangan takut kalau dia hanya menerima uang dari Anda, karena sejatinya seorang istri pasti juga akan menjadi akuntan alias pengelola keuangan rumah tangga serta menjadi isteri dan ibu yang siaga untuk keluarga. Ibu rumah tangga juga harus cerdas karena mengurus anak-anak butuh ilmu supaya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Itu artinya menjadi ibu rumah tangga bukanlah seseorang yang dangkal.

Lalu, jangan berpikir dia hanya akan menurut saja pada suaminya karena dia pastinya juga memiliki pandangannya sendiri (itu gunanya memiliki istri yang cakap/ cerdas), dia juga tidak akan menyerahkan semua konflik ke satu pihak. Dia juga ingin didengar dan ikut berkontribusi, bukan cuma manut saja. Jadi, kamu sebagai laki-laki yang menganggap ibu rumah tangga tidak bisa mengimbangi pemikiranmu, itu salah, “SALAH BESAR”. Di dalam rumah tangga memang tidak bisa dua orang yang menjadi kepala. Jadi kalau anggapan tentang kepemimpinan harus berdua juga kurang tepat. Namun meskipun kamu adalah pemimpin rumah tangga, bukan berarti pendapat pasanganmu tidak penting. Dia juga bisa menjadi sahabat yang akan memberikan solusi sekaligus menjadi penasehat di setiap tindakanmu.

Sayangnya stigma di tengah-tengah masyarakat tentang menjadi ibu rumah tangga hanya diukur dari kemampuan dia memasak dan kecakapan mengurus rumah saja tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Jadi, terkesan hanya sebagai wanita yang manut saja terhadap suami. Seolah-olah dia tidak bisa apa-apa dan dianggap rendah karena pekerjaan rumah adalah sesuatu yang tidak keren. Menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang tidak mudah apalagi jika dia harus berkorban dengan memilih berhenti dari pekerjaannya karena prioritas utamanya adalah keluarga.

Well, saya berprinsip menjadi ibu rumah tangga adalah peran yang sangat mulia. Kalau kamu mengharapkan wanita karir itu juga baik, tetapi seharusnya kamu juga dapat melihat bahwa wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga itu juga mulia. Berekspektasi tinggi itu baik, tetapi jangan sampai ekspektasi yang tinggi itu menutup pikiran kita dengan mengagungkan sesuatu secara berlebihan. Sejatinya di dunia ini tidak ada yang ideal, sekarang tinggal bagaimana lagi kita menyikapinya.

Hina

Hina

Mata-mata itu mengintai dengan jijik,
Mencela dan mengolok bisul yang melekat ditubuhku
Seolah-olah ingin melenyapkanku
Tidak akan ada pertolongan disaat bisul ini menganga
Bisul ini tidak saja menghilang
Malahan menimbulkan nanah beraroma kematian
Dengan nyaring aku berseru “tolong”

Ditengah lautan cemooh manusia-manusia
Aku mencari perisai tuk berlindung
Namun aku hanya menemukan kesia-siaan
Aku menghadapi mata-mata yang merendahkan
Mengeraskan hati untuk setiap gertakan gigi yang ingin melumatku
Namun Aku tidak tahan dengan penghakiman
Akhirnya aku menyerah
Dengan malu dan berat kutundukkan kepala ini
Kucoba tuk hindari tatapan tajam dan merendahkan

Ntah bagaimana caranya aku lepas dari kerumunan itu
Ntah bagaimana caranya aku terbaring di ruang gelap ini
Tenggelam dalam rentetan kronologi cerita yang menyakitkan
Menyeret jiwaku dititik terendah
Terpuruk dan tak mampu bangkit
Setiap serpihan kejadian masih menggerogoti tulang-tulangku
Aku ingin membuka jendela sekedar untuk tau apakah mereka masih disana

[Piana]

Khayalan

Terdiam…duduk disini
Lelah pikiranku menerawang jauh
Membayangkan mu menguras ion tubuh
Terbakar oleh rasa cemas yang menggebu

Mengenang…
Jiwaku terhanyut dikeheningan malam
Tulang-tulangku gemetar tak karuan
Tapi tetap saja ada potongan yang terhilang

Aaah…Bodohnya pikiranku yang terpendam
Hanya mengenang dan menunggu pengertian
Kini tinggallah pertanyaan menantikan jawaban

Terjaga…
Dari lamunan panjang tentang mu
Berhenti….
Tanpa sampai di puncak khayalan

Kupejamkan mata
Meminta penjelasan dari pikiranku yang berlayar jauh
Demi mendapatkan keteduhan dan ketenangan
Dari jiwaku yang haus tentang mu

Perlahan-lahan kubuka mata ku
Dan aku selesai….

[Piana]

Berakhir

Sudah berapa lama ku menunggu
Menuggu untuk suatu hasil
Akhirnya …
Datang dan kembali lagi
Kufikir inilah saat kesempatan dan pertunjukan
Ternyata ..Sesuatu yang retak tak dapat dipulihkan

Jurang luka yang begitu dalam
Yang mulai terasa perih
Rasa perih yang terlalu lama berlayar
Tidak ada jalan untuk kembali

Kesempatan memaafkan telah hilang
Tak ada petualangan yang tersisa
Untuk berlayar lebih jauh lagi
Sayang sekali..
Aku ingin menggenggam untuk yang terakhir kalinya

Deru ombak memanggil pulang
Tak didengar…
Angin kencang mengucapkan selamat tinggal
Untuk si penakut
Kini berakhirlah persaudaraan kita
Pergi dan tak kan kembali lagi

[Piana]

Hatiku dan Hatimu

Aku datang, lalu suatu hari kematian akan menjemputku
Akan kutinggalkan goresan kuas kehidupanku pada waktu
Kutitipkan nyanyian hatiku pada sudut-sudut waktu
Aku adalah hatiku, kamu adalah hatimu

Aku datang, bertemu banyak hati disini
Kaupun datang, lalu bertemu banyak hati disana
Hatiku dan hatimu, disini dan disana
Aku sungguh ingin rasakan, apakah isinya hatimu?

[Piana]