DIAM

Featured

Seharusnya aku tersenyum menyaksikan kebahagiaan
Seharusnya aku menangis melihat kesedihan
Seharusnya aku bersuara melihat ketidakadilan
Seharusnya aku kesakitan jika dipukul
Seharusnya aku marah jika dikecewakan
Seharusnya aku mengatakan kebenaran jika mengetahui kebohongan
Seharusnya aku meminta maaf ketika bersalah
Seharusnya dan sepatutnya….

Lalu kenapa kita tidak berdaya?
Padahal kita tahu ada penderitaan dan harga yang mahal jika kita hanya membisu

Kebutaan dan kebisuan yang sengaja tercipta
Hanya akan menyebabkan hal-hal baik menjauh
Hingga kita sadar telah menjauh dari sumber kehidupan

Lalu adakah jaminan jika kita tidak membisu?

Mungkin tidak
Karena kerap kali kita akan dibenci, disudutkan, dijatuhkan dan dipatakan
Jadi, jangan coba unjuk gigi karena nyatanya kebisuan adalah jalan terbaik saat ini
Walaupun sepatutnya kita harus berjuang untuk melakukan apa yang menurut kita baik

SELAMAT DARI PENYESALAN-TERIMAKASIH

Featured

“Singgah sebentar bukan karena enggan berlama-lama. Hanya saja waktu tidak dapat aku genggam lebih lama dari yang kuinginkan. Datangku adalah rasa terimakasih yang tidak akan pernah putus. Jadi, aku pergi bukan untuk lupa tetapi biar bagaimana pun aku harus kembali ketempat dimana aku harus berjuang kembali atas hidupku”.

Tanggal 16 Juni 2020, sepanjang perjalanan mengendarai sepeda motor dari Disdukcapil kota Duri menuju rumah yang berada di Kandis, ada nyanyian-nyanyian yang memaksaku untuk singgah di suatu tempat yang akan kulewati sebelum akhirnya tiba di rumah. Intuisiku yang menghantarkanku ketempat ini. Tempat dimana aku dapat menyelesaikan pendidikan SMA selama kurang lebih 3 tahun. Tempat yang menyelamatkanku dari penyesalan. Penyesalan bila akhirnya aku tidak dapat menyelesaikan pendidikan jenjang SMA saat itu.

Selama 9 tahun berkelana di luar pulau, bukan tidak pernah kembali pulang ke rumah. Pada saat kuliah, hampir setiap semester kembali pulang ke kampung halaman, pulang ke daerah asal. Namun tidak ada intuisi yang begitu kuat seperti yang kurasakan saat ini. Nyanyian yang terus berdengung di gendang telinga, memanggilku untuk singgah sesaat saja. Singgah bagiku memiliki makna yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Ada perasaan bersyukur yang teramat dalam. Seandainya kejadian itu berjalan sesuai dengan keinginnaku, mungkin aku akan menyesal seumur hidup.

Teriknya matahari yang menemani disepanjang perjalanan, membuatku merasakan keanehan dan kebosanan walau hanya semenit bertahan. Entah apa yang membuatku berubah atau memang keadaan yang sudah tidak seperti dulu lagi. Daerah ini telah banyak berubah tetapi masih dapat kukenali. Setiap yang hidup maupun tidak menyambutku yang sudah terasa asing saat itu, meraka mendendangkan nyanyian yang memanggilku untuk segera berhenti di suatu tempat yang sudah lama aku abaikan, yaitu sekolah yang pernah menerima keberadaanku yang tidak sempurna. Entah mengapa, ada langkah yang begitu berat ketika aku tiba di gerbang gedung tersebut. Lalu ada kesedihan dan penyesalan yang hadir didalam jiwa yang pernah menutup mata dan telinga selama beberapa tahun ini. Namun, hari ini ada kerinduan yang terbalaskan saat aku memberanikan kaki untuk melangkah masuk melewati gerbang itu. Aku berjalan-jalan, mengelilingi lapangan sambil memperhatikan gedung-gedung dan oranamen-ornamen yang mengisi sekolah itu. Seluruh perangkat yang terdapat di sekolah ini, sudah banyak berubah. Walaupun demikian, aku masih merasa akrab dengan lingkungan ini. Lingkungan yang pernah menghiasi hari-hariku selama kurang lebih 3 tahun. Setelah lelah, kemudian aku berhenti sejenak duduk santai dan mengenang diriku beberapa tahun lalu. Ada banyak kecerobohan, kesalahan, dan tentu sedikit kebaikan saat itu….hehehehe

“Aku akan menjadi gadis yang malang sepanjang waktu, mungkin akan terus menyalahkan diri sendiri dan tenggelam dalam keterpurukan kalau saja ide yang kulakukan sesuai dengan rencanaku”, pikirku dalam hati. Ya, ada sedikit kebodohan dan keserakahan saat aku baru lulus SMP. Aku yang masih rentan dengan diriku, yang tak pernah melintas di benakku tentang tindakan apa yang harus kukerjakan dan bagian mana yang harus kusyukuri. Ceritaku mungkin akan menjadi cerita yang sedih seandainya Dewa pengisi kehidupan tidak peduli denganku saat itu. Aku mendaftar ke sekolah ini bukanlah karena inginku. Ini adalah pilihan sekolah dari Mamakku yang tidak membiarkanku memilih sekolah yang aku impikan. Perjanjian sekolah seperti apa yang aku pilih setelah lulus SMP adalah rahasia diantara Bapak dan diriku saja. Bukannya, menganggap sekolah SMA N 1 Pinggir buruk dan tidak pantas, hanya saja aku adalah tipikal seseorang yang sulit untuk mendapatkan teman. Aku sudah memiliki kenangan dengan teman-teman SMP, setidaknya satu dari mereka seharusnya menuju haluan yang sama denganku sehingga aku tidak akan merasa sedih dan kesepian saat itu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang menemaniku ke sekolah ini. Saat itu, aku berpikir sungguh konyol dan bodoh, hanya memikirkan tentang “Bagaimana dengan cerita film, komik, novel dan kegiatan masak-memasak kami harus terhapuskan jika aku bersekolah disini?”.

Keegoisanku saat masih remaja membawaku ke suatu rencana. Rencananya sangat sederhana, aku hanya tidak usah menjawab satupun soal di kertas ujian saringan masuk SMA ini. Dengan demikian, aku berpikir akan gagal dan tidak akan pernah bersekolah di sini. Tiba dihari ujian tertulis, aku benar-benar tidak membaca satupun dari soal-soal di kertas tersebut. Saat itu, aku hanya menulis cerita, menggambar hal-hal yang tidak penting dan mencocokkan karakter tokoh-tokoh Harry Potter dengan karakter kawan-kawan karibku di SMP. Kemudian membolak-balikkan lembaran kertas ujian. Ya, intinya, tidak ada satupun soal yang kujawab. Selesai dari ujian tertulis tersebut, aku berpikir untuk mendaftar ke SMA yang ingin kutuju, yang pikirku masih dibuka. Ternyata pendaftaran sudah ditutup seminggu yang lalu. Itulah kebodohanku yang tidak memiliki rencana matang yang hanya mengikuti keinginan daging. Seandainya rencanaku berhasil pun mendaftar ke sekolah pilihanku, mamak juga tidak akan mungkin mau membiayai uang sekolah dan biaya transportasi karena sekolah tersebut sangatlah jauh dan lebih mahal dari sekolah ini.

Dibalik ujian tertulis tersebut, ada perasaan kecewa dan sedih. Aku berpikir, hidupku akan benar-benar tamat. Aku yakin dengan seyakin yakinnya bahwa tidak akan lolos seleksi masuk di sekolah ini.  Semalaman aku menangis memikirkan hidupku yang malang. Hanya karena alasan bodohku, aku harus mengorbankan masa depanku. Toh, juga kita adalah sesuatu yang dirancang untuk tidak selamanya. Seharusnya aku merelakan kehilangan kawan-kawan SMP dan berharap bisa melupakan guru favorit Syarif Romadhon yang membuatku semakin semangat untuk hadir ke sekolah setiap hari. Sedikit cerita tentang Pak syarif, aku menyukainya bukan lantaran cara mengajar-nya yang piawai, dalam artian mudah dimengerti tetapi lebih kepada ketika ekstrakurikuler, Ia menyediakan tontonan gratis khusus untuk kelas 8A dan 9A alias nobar. Film-film yang ditawarkan juga sangat bagus, salah satunya adalah film favoritku “Life is Beautiful”. Jadi, intinya aku senang dan menganggap beliau adalah guru terbaik yang mengerti murid-muridnya yang pemalas. Jadi, kudu disuguhi hiburan salah satunya dengan menonton. Film yang Ia suguhkan yang paling kubenci adalah “Kuntilanak”.

Akhirnya, tiba di hari pengumuman penerimaan SMA N 1 Pinggir. Lagi-lagi mamak yang mengingat kapan pengumuman dan membangunkanku pagi itu. Pagi itu, kalau tidak salah di hari senin adalah pengumuman kelulusan siswa/siswi yang diterima maupun tidak. Tidak ada sedikit gairah untuk bangkit dari kasur saat itu. Kepura-puraan yang memaksaku untuk segera bangkit dari kasur yang lebih menarik dari pada tentang lolos atau tidaknya aku di sekolah tersebut. Otakku yang berpikiran tidak akan lulus mengantarkan ransangan ke anggota tubuhku yang lain untuk bermalas-malasan, berangkat ke sekolah tersebut. Singkat cerita, kami pergi ke sekolah tersebut dan saat tiba di sana, sudah banyak orang-orang yang mengelilingi papan nama untuk melihat lolos atau tidaknya mereka. Aku hanya menonton orang-orang yang berkerumun sesaat dan kembali ke Mamak.

“Mak, aku gak diterima”, dengan entengnya aku menjawab saat itu. Kulihat wajah pucat mamak dan khawatir saat itu, “Masa iya?, coba dulu liat baik-baik. Mamak mau liat sendiri dulu”, kata mama membalas ucapanku. Ia pun beranjak dari kursinya dengan meminta bantuan kesalah satu anak sedaerah dengan kami, Eva. Ya, ternyata lulus, dalam artian aku diterima di sekolah ini. Saking tidak percayanya dengan perkataan Eva, aku melihat kembali dan sampai 3 kali kalau tidak salah. Akhirnya aku percaya karena memang ada namaku di papan pengumuman. Nah, inilah yang menjadi pertanyaanku sampai saat ini, kenapa sekolah ini capek-capek buat ujian tertulis dan menghabiskan beberapa lembar kertas dan tinta kalau ujian tertulis tersebut tidak masuk dalam penilaian. Aku sungguh bingung yang bertanya pada tanya. Mengapa aku diterima di sekolah ini?

Ya biarlah, mungkin cerita diatas adalah kenangan yang membuatku sangat beruntung dan bersyukur. Aku sungguh sangat berterimakasih dan mengucap syukur atas takdir yang tertulis di dalam kitab kehidupanku saat itu. Bagaimana tidak?, kalau seandainya dewa malapetaka yang hadir di kitab kehidupanku saat itu. Sungguh tidak dapat membayangkan dan mungkin tidak dapat memaafkan diri sendiri. Keberuntungan tersebut membawaku dalam keyakinan bahwasanya ada kuasa yang lebih dari apa yang kita pikirkan. Aku gak bisa ngebayangin kalau gak diterima di sekolah ini. Lagi-lagi aku sangat berterima kasih untuk Dewa pengisi kehidupan yang menggagalkan sebuah rencana bodoh itu. Aku sungguh berterimakasih kepada guru-guru, kawan-kawan, gedung beserta seluruh isi SMA N 1 Pinggir atas penerimaaan kalian terhadapku. Ada hal-hal yang tidak kusuka dari guru-guru di SMA yang kukasihi ini, tetapi lebih banyak hal-hal yang lebih kusukai dari mereka. Sesungguhnya, aku tidak benar-benar begitu sakit hati kalau mereka marah terhadap kami murid-muridnya. Terkadang kemarahan mereka dapat kami nikmati, rasanya lucu melihat kekecutan di wajah mereka ketika kami membangkang. Hahahha

Ada banyak hal yang tidak terlupakan, sungguh tidak dapat diceritakan dengan singkat. Salah satunya yang tidak terlupakan adalah Novel berjudul “The Map of Love”. Buku ini disita dari laciku oleh salah seorang guru. Akibatnya, aku tidak menerima pinjaman novel-novel berikutnya dari salah satu kawanku lagi. Hahahhahah. Teman-teman lain kehilangan HP sementara dan kalau aku kehilangan novel selamanya. Bisa dilihat betapa beruntungnya saat itu, tidak memiliki HP yang canggih yang bisa disita. Wkwkwkkw. Isu yang kudengar dari kawan-kawan tentang razia di sekolah, selain barang-barang berharga tidak akan dikembalikan. Jadi, kalau ditemukan seperti novel, rokok dan majalah-majalah yang menyesatkan maka akan dibakar katanya.

Sepotong ceritaku diatas adalah suatu pembelajaran buatku pribadi. Salah satu yang kusadari adalah Doa orang tua yang membuatku dapat diterima disekolah ini. Tuhan tidak mengizinkan keinginanku yang egois. Ia mengasihaniku, sehingga aku boleh selamat dari yang namanya penyesalan. Ia tidak melihat pribadiku, kalau saja takdir menghukumku saat itu, mungkin aku tidak akan pernah menghabiskan 3 tahun lamanya disini. Penerimaan di tahun 2011 mengajarkanku untuk melihat kehidupan lebih dalam. Aku memahami, ada hal lain yang turut andil di dalam setiap kehidupan kita. Jalan pikiran kita tidak lebih hebat dari yang Kuasa. Terkadang kita merencanakan sesuatu tanpa mencari hikmat. Sampai sekarang, pencarian akan hikmat adalah hal yang paling sulit bagiku.

Kita mungkin boleh merencanakan sesuatu tetapi rancangan Tuhan lah yang menentukan segalanya.

Nilai Perempuan Tidak Hanya Ditentukan Oleh Virginitas

Sebagian besar Agama memang melarang hubungan seks diluar nikah yang bertujuan untuk mengajarkan bagaimana setiap orang menghargai dirinya sendiri dan menghormati pasangannya kelak. Oleh karena itu, seyogianya setiap orang harusnya dapat menjaga diri dengan tidak melakukan hubungan seks hingga waktu yang telah ditentukan yakni saat menikah. Namun entah mengapa, saya kerap kali geram ketika mendengar cerita dari beberapa teman yang ketika awal memulai in relationship sudah dipertanyakan betul – betul status keperawanannya. Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini sungguh melukai harga diri dari kaum perempuan. Seolah-olah nilai seorang perempuan hanya ditentukan oleh perawan (virginity) atau tidaknya perempuan tersebut. Kesannya kalau seorang perempuan tidak lagi virgin maka tidak layak untuk dipertahankan. Perempuan tersebut dianggap perempuan yang tidak baik-baik. Padahal kalau banyak perempuan yang tidak perawan juga karena banyak pria yang sudah tidak perjaka. Sungguh ini adalah hal yang tidak adil karena hanya menitikberatkan pada kaum perempuan saja. Hal ini bisa terjadi karena mungkin di daerah-daerah tertentu dipengaruhi oleh adanya ekspansi budaya yang menanamkan pola pemikiran hegemoni patriarki.

Anehnya, perempuan yang sudah tidak virgin dilabeli dengan banyak istilah, seperti tidak suci, tidak bersegel, kotor dan lain-lain. Istilah-istilah ini dipakai untuk mempertanyakan virginitas seorang perempuan.

“Apakah kamu masih suci? Apakah kamu masih bersih? Apakah kamu masih bersegel?” dan lain sebagainya.

Pertanyaan menyelidik di atas sungguh menggelitik relung pemikiran saya. Rasanya sangatlah lucu untuk mengetahui tentang virginitas dari seorang perempuan melalui pertanyaan-pertanyaan yang terlalu berbasa-basi. Istilah yang terlalu basa – basi tersebut mengandung sarat makna yang terkesan seperti hal yang terutama dan paling penting dalam kehidupan ini. Baiklah, hal yang ingin sedikit saya luruskan dalam salah satu istilah yang dipakai dalam selidik menyelidik tentang virginitas adalah istilah kesucian. Istilah kesucian yang sering kita dengar di daerah – daerah tertentu untuk mempertanyakan apakah perempuan tersebut masih virgin atau tidak. Sesungguhnya saya bingung kenapa kesucian seorang perempuan diukur dari virgin atau tidaknya seorang perempuan. Perlu diketahui bahwa kesucian, dari akar kata suci dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa berarti bersih, bebas dari dosa, dan tidak bernoda. Jadi rasanya tidak relevan kalau seorang perempuan yang tidak perawan dianggap tidak suci karena sesungguhnya tidak ada manusia yang benar-benar suci atau tidak bernoda. Sesungguhnya setiap insan manusia pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa tidak terkecuali.

Terlepas dari sisi agama maupun budaya, saya memahami hubungan seks di luar pernikahan itu tidak baik. Jadi, suatu kewajaran kalau masih perjaka menuntut perempuan yang masih virgin. Sebaliknya, ketidakwajaran kalau kamu pria-pria yang juga pendosa, tidak perjaka menuntut perempuan yang harus masih virgin. Namun, yang menjadi kekesalan saya adalah isu di tengah-tengah masyarakat yang tidak berimbang dimana perempuan lebih disudutkan dan mendapatkan sanksi sosial di lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu, banyak perempuan yang tidak virgin begitu ketakutan dan dikejar-kejar oleh perasaan bersalah yang malah menyebabkan semakin rusaknya mental mereka. Sikap menyudutkan ditengah-tengah keluarga atau masyarakat membuat mental mereka menjadi semakin rusak seperti, merasa diri tidak berharga, meyalahkan diri terus-menerus, masa depan sudah hancur, merasa tidak ada yang menerima hingga membuat tidak ada semangat lagi untuk hidup. Mental seperti ini tentunya tidak menjadi solusi bagi mereka yang sudah menyerahkan virginitasnya sebelum menikah. Malahan membuat mereka semakin terpuruk.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah apakah pria yang juga melakukan hal sama tidak merasa malu mempertanyakan hal-hal seperti ini di awal hubungan?

Apakah pertanyaan dengan istilah-istilah seperti ini dilontarkan hanya untuk memenuhi ego dari kaum pria? Jika iya, maka Anda adalah kaum pria yang sungguh tidak tau diri karena nilai perempuan tidak hanya ditentukan oleh virginitas semata.

Dan bagi kaum perempuan yang merasa tidak berharga hanya karena permasalahan virginitas, cukup merasa bersalah dan maafkan dirimu. Hidupmu sangat berharga dan jalan kehidupanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Kamu harus bangkit dan coba terus memperbaiki diri. Jangan termakan oleh penolakan orang lain karena hidupmu sangat berharga untuk diperjuangkan. Saat kamu merasa terpuruk, tidak ada istilah terlambat untuk memperbaiki diri. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, jadi jangan berpikiran dangkal hanya karena percaya dengan berbagai isu yang begitu menyudutkan.

Sudahi

Lidahku tersekat di langi-langit mulutku
Tiada sepatah kata dapat terucap
Padahal ada seribu tanya yang tersimpan

Sekian lama sudah kumenahan kelu
Tiada terbilang lagi sesak di dada ini
Aku tak kuasa mengungkapkan kecewa
Aku tak pandai menyudahi rantai cinta yang mendua

Jangan kira aku lompong karena bisu
Aku hanya ingin kejujuranmu
Hentikan pelarianmu di hatiku
Karena itu menyiksa jiwaku

Jangan katakan sayang
Kalau tidak tersedia ruang bagiku di hatimu
Jangan katakan maaf
Hanya untuk menghindari perdebatan
Jangan katakan rindu
Hanya karena ingin mengusir sepimu

Katakan saja
Jangan diam seribu bahasa
Ungkapkan saja
Karena aku terperangkap dalam tanya
Sudahi saja
Karena tak ada alasan untuk bertahan

Hilangkan rasa bersalah di hatimu
Karena aku telah berkenan melepasmu
Aku paham harus mengikismu di hatiku
Karena kau adalah ketidakmungkinan
Yang tak seharusnya kugenggam
Jadi akhiri saja..ini pintaku

[Piana]

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Benakku bergolak kalau mengingat pandangan seseorang tentang menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang dangkal. Ratusan gagasan terus membanjiri pikiranku kala kita bercerita tentang berbagai macam hal, khususnya menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Menjadi ibu rumah tangga seringkali dianggap tidak memiliki jiwa yang terhubung dengan pasangannya atau istilahnya tidak matching karena tidak memiliki minat dan antusias yang sama dalam memandang sesuatu.

Saya pikir pernikahan dirancang untuk memanggil kita keluar dari fokus terhadap diri sendiri dan belajar mencintai seseorang yang berbeda. Di dalam pernikahan butuh rasa cinta, pengorbanan dan rasa hormat kepada pasangan kita. Hal yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah mengenai rasa hormat. Terkadang, ada beberapa pandangan yang menganggap bahwa ibu rumah tangga hanya berperan sebagai pelayan dan tidak bisa dijadikan sahabat. Mereka dianggap dangkal dan tidak punya pemikiran yang brilliant sehingga kurangnya rasa hormat terhadap wanita yang memiliki impian untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal, menjadi ibu rumah tangga itu juga sama mulianya dengan menjadi wanita karir. Jadi jangan memandang rendah orang lain jika semisal dia memiliki impian dan jalan pikiran yang berbeda dengan Anda.

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah film yang berjudul Little Woman yang bercerita tentang bagaimana setiap wanita memiliki warnanya masing-masing. Mereka memiliki cara pandang tersendiri dalam menjalani hidup. Salah satu favourite line saya dalam film ini adalah perkataan Meg yaitu “Just because my dreams are different from yours doesn’t mean they’re unimportant.” Perkataan ini dilontarkan oleh Meg ketika Jo menganggap bahwa menikah dengan nasib hanya sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang menyedihkan. Jo menganggap ada banyak hal yang harus Meg jalani, misalnya menjadi aktris terkenal seperti impiannya selama ini. Dari film ini, saya belajar melihat bagaimana perubahan sikap Jo yang menghormati keputusan Meg tanpa menganggap rendah keputusan saudarinya itu.

Film tersebut mengingatkan saya akan seseorang yang menuntut saya menjadi seperti yang dia mau. Sejujurnya saya tidak pernah menginginkan hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga. Tetapi karena ada beberapa pandangan bahwa ibu rumah tangga hanya berperan sebagai pelayan dan tidak bisa sekaligus menjadi sahabat untuk pasangannya membuat saya sangat marah dan kecewa. Menikmati menjadi wanita karir sangatlah indah, namun ada sisi-sisi lain yang tidak bisa terisi hanya karena bekerja atau memiliki jabatan selangit. Sisi lainnya adalah menikmati waktu penuh dengan anak-anak, suami dan keluarga. Bagi sebagian wanita, menjadi ibu rumah tangga akan membuat dia lebih bahagia dibanding menjadi wanita karir. Oleh sebab itu, pandangan tentang impian menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang konyol, bagi saya itu adalah konsep yang tidak masuk akal karena kenyataannya mengurus rumah tangga itu tidaklah mudah. Sebagai tambahan, dalam berumah tangga setiap keputusan yang diambil sebaiknya dilakukan bersama-sama, terlepas pasangan Anda itu adalah wanita karir atau bukan.

Saya tidak bisa membayangkan jika ada pandangan bahwa wanita yang tidak berkarir tidak bisa memimpin jalannya rumah tangga karena dianggap hanya cocok sebagai pelayan sehingga tidak mampu mengimbangi pemikiran pasangannya. Ibu rumah tangga dianggap tidak mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada, seperti bagaimana menyelesaikan konflik, memberi pendapat atau pandangan yang dapat mengakomodasi atau menampung maksud suami serta saling mengoreksi dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Hei, peran seorang ibu rumah tangga juga tidak hanya mengurus rumah dan seisinya. Berada di rumah bukan berarti hanya mengurusi seisi rumah saja tanpa terlibat dalam memimpin jalannya rumah tangga. Dia juga punya pemikiran yang cakap dan baik dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Dia juga bisa mengembangkan potensi dirinya. Sekalipun hanya di rumah saja, bukan berarti dia tidak bisa bisa berkembang dan menjalani apa yang disukainya. Ibu rumah tangga juga bisa kreatif dan produktif. Bisa jadi hobi yang ada akan meningkatkan skill-nya dan menciptakan suatu karya hanya dengan di rumah saja. So, jangan takut kalau dia hanya menerima uang dari Anda, karena sejatinya seorang istri pasti juga akan menjadi akuntan alias pengelola keuangan rumah tangga serta menjadi isteri dan ibu yang siaga untuk keluarga. Ibu rumah tangga juga harus cerdas karena mengurus anak-anak butuh ilmu supaya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Itu artinya menjadi ibu rumah tangga bukanlah seseorang yang dangkal.

Lalu, jangan berpikir dia hanya akan menurut saja pada suaminya karena dia pastinya juga memiliki pandangannya sendiri (itu gunanya memiliki istri yang cakap/ cerdas), dia juga tidak akan menyerahkan semua konflik ke satu pihak. Dia juga ingin didengar dan ikut berkontribusi, bukan cuma manut saja. Jadi, kamu sebagai laki-laki yang menganggap ibu rumah tangga tidak bisa mengimbangi pemikiranmu, itu salah, “SALAH BESAR”. Di dalam rumah tangga memang tidak bisa dua orang yang menjadi kepala. Jadi kalau anggapan tentang kepemimpinan harus berdua juga kurang tepat. Namun meskipun kamu adalah pemimpin rumah tangga, bukan berarti pendapat pasanganmu tidak penting. Dia juga bisa menjadi sahabat yang akan memberikan solusi sekaligus menjadi penasehat di setiap tindakanmu.

Sayangnya stigma di tengah-tengah masyarakat tentang menjadi ibu rumah tangga hanya diukur dari kemampuan dia memasak dan kecakapan mengurus rumah saja tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Jadi, terkesan hanya sebagai wanita yang manut saja terhadap suami. Seolah-olah dia tidak bisa apa-apa dan dianggap rendah karena pekerjaan rumah adalah sesuatu yang tidak keren. Menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang tidak mudah apalagi jika dia harus berkorban dengan memilih berhenti dari pekerjaannya karena prioritas utamanya adalah keluarga.

Well, saya berprinsip menjadi ibu rumah tangga adalah peran yang sangat mulia. Kalau kamu mengharapkan wanita karir itu juga baik, tetapi seharusnya kamu juga dapat melihat bahwa wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga itu juga mulia. Berekspektasi tinggi itu baik, tetapi jangan sampai ekspektasi yang tinggi itu menutup pikiran kita dengan mengagungkan sesuatu secara berlebihan. Sejatinya di dunia ini tidak ada yang ideal, sekarang tinggal bagaimana lagi kita menyikapinya.

Hina

Hina

Mata-mata itu mengintai dengan jijik,
Mencela dan mengolok bisul yang melekat ditubuhku
Seolah-olah ingin melenyapkanku
Tidak akan ada pertolongan disaat bisul ini menganga
Bisul ini tidak saja menghilang
Malahan menimbulkan nanah beraroma kematian
Dengan nyaring aku berseru “tolong”

Ditengah lautan cemooh manusia-manusia
Aku mencari perisai tuk berlindung
Namun aku hanya menemukan kesia-siaan
Aku menghadapi mata-mata yang merendahkan
Mengeraskan hati untuk setiap gertakan gigi yang ingin melumatku
Namun Aku tidak tahan dengan penghakiman
Akhirnya aku menyerah
Dengan malu dan berat kutundukkan kepala ini
Kucoba tuk hindari tatapan tajam dan merendahkan

Ntah bagaimana caranya aku lepas dari kerumunan itu
Ntah bagaimana caranya aku terbaring di ruang gelap ini
Tenggelam dalam rentetan kronologi cerita yang menyakitkan
Menyeret jiwaku dititik terendah
Terpuruk dan tak mampu bangkit
Setiap serpihan kejadian masih menggerogoti tulang-tulangku
Aku ingin membuka jendela sekedar untuk tau apakah mereka masih disana

[Piana]

Khayalan

Terdiam…duduk disini
Lelah pikiranku menerawang jauh
Membayangkan mu menguras ion tubuh
Terbakar oleh rasa cemas yang menggebu

Mengenang…
Jiwaku terhanyut dikeheningan malam
Tulang-tulangku gemetar tak karuan
Tapi tetap saja ada potongan yang terhilang

Aaah…Bodohnya pikiranku yang terpendam
Hanya mengenang dan menunggu pengertian
Kini tinggallah pertanyaan menantikan jawaban

Terjaga…
Dari lamunan panjang tentang mu
Berhenti….
Tanpa sampai di puncak khayalan

Kupejamkan mata
Meminta penjelasan dari pikiranku yang berlayar jauh
Demi mendapatkan keteduhan dan ketenangan
Dari jiwaku yang haus tentang mu

Perlahan-lahan kubuka mata ku
Dan aku selesai….

[Piana]

Berakhir

Sudah berapa lama ku menunggu
Menuggu untuk suatu hasil
Akhirnya …
Datang dan kembali lagi
Kufikir inilah saat kesempatan dan pertunjukan
Ternyata ..Sesuatu yang retak tak dapat dipulihkan

Jurang luka yang begitu dalam
Yang mulai terasa perih
Rasa perih yang terlalu lama berlayar
Tidak ada jalan untuk kembali

Kesempatan memaafkan telah hilang
Tak ada petualangan yang tersisa
Untuk berlayar lebih jauh lagi
Sayang sekali..
Aku ingin menggenggam untuk yang terakhir kalinya

Deru ombak memanggil pulang
Tak didengar…
Angin kencang mengucapkan selamat tinggal
Untuk si penakut
Kini berakhirlah persaudaraan kita
Pergi dan tak kan kembali lagi

[Piana]

Hatiku dan Hatimu

Aku datang, lalu suatu hari kematian akan menjemputku
Akan kutinggalkan goresan kuas kehidupanku pada waktu
Kutitipkan nyanyian hatiku pada sudut-sudut waktu
Aku adalah hatiku, kamu adalah hatimu

Aku datang, bertemu banyak hati disini
Kaupun datang, lalu bertemu banyak hati disana
Hatiku dan hatimu, disini dan disana
Aku sungguh ingin rasakan, apakah isinya hatimu?

[Piana]